Jumat, 15 April 2011

Menyelami hidupku


Yah…. Apa gunanya bersedih demi hidup yang sebentar

Apa gunanya menangisi orang-orang hanya karena dunia

Terlalu picik memang, tapi itulah manusia, satu kesalahan orang lain akan tetap diingat, walaupun kita tidak pernah tau seberapa besar orang tersebut melakukan perbaikan, kita tetap men-cap nya sebagai orang yang buruk.

Dunia terlalu dilebihkan jika kita harus mencari orang baik. Yah… Cuma tempat transit yang sebentar, mungkinkah kita menemukan kebenaran?

Dan sekali lagi, kita hanya manusia, tak kan bisa menghitung dengan benar kebaikan dan keburukan seseorang. Sekali lagi, orang yang pernah berbuat buruk pasti pernah berbuat baik, demikian juga sebaliknya, seseorang yang berbuat baik pasti pernah berbuat buruk.

Dan disini, belajar dari pengalaman, belajar dari banyak hal yang terjadi, telah 9945 hari aku hidup, dan masih terlalu banyak yang belum kupahami, tempat transit yang kadang membuat terlena akan keindahan semu. Semoga tidak merusak diriku terlalu lama,

Selasa, 12 April 2011

Cukuplah Allah Untukku


Aku ingin menangis…. Tapi tak mengerti apa yang akan kutangiskan, rasanya bisa sangat nyaman bila bisa melepas semua sesak yang ada, tapi aku tak mengerti, galau….

Semua pikiran buruk menghantui, merajai, berkali-kali aku ingin tenang, mencari asal-muasal setiap gelisah.

Dan pagi ini kekesalan memuncak pada seseorang, ibarat sebuah cambuk panjang mendapat sasaran empuk. Hmm…. Tapi berkali-kali, harus menenangkan diri. Mata ini sudah terlalu sipit jika harus dibuat bengkak karena menangis, aku telah bertekad bahwa satu-satunya yang bisa membuat mataku lebih sipit adalah karena senyum yang terlalu lebar.

Akan kulalui hari ini, tak kuperdulikan setiap yang lewat, aku punya duniaku sendiri. Cukuplah Allah untukku, tak kan ada yang lain.

Senin, 11 April 2011

Indahnya Persaudaraan dalam Sebuah Tulisan


Percaya kan sebuah tulisan bisa sangat berdampak pada seseorang, hmmm…. Kadang karena membaca sesuatu bisa membuat seseorang nangis Bombay, melebihi dari menonton film India. Kadang juga bisa membuat seseorang sangat bersembangat melebihi dentuman drumband (hehe…). Bahkan sebuah tulisan bisa menginspirasi hidup seseorang begitu saja, contohnya Laskar Pelangi, gak sedikit orang-orang yang terinspirasi dari buku fenomenal tersebut. Lebih dalam lagi, sebuah tulisan bisa menyegarkan kembali iman seseorang, membuatnya lebih khusyuk lagi beribadah.

Sebuah tulisan juga bisa berdampak buruk terhadap seseorang. Tulisan bisa membuat mental seseorang menjadi bobrok? Aku mengenal seseorang yang tak perlu disebutkan namanya, tiba-tiba bermentalkan buruk karena sebuah tulisan. Yah saat itu ia hanya kelas 5 SD, sedang ia sangat gemar membaca, ia hanya anak miskin, susah buatnya membeli buku apalagi majalah anak2. Saat bertanya pada temannya, apakah temanya memiliki sebuah bacaan? Dengan mudahnya temannya menyodorkan sebuah buku, milik orangtuanya “Novel picisan” berjudul “W_ _ O SABLENG”. Duhai anak kecil yang malang, diusianya yang masih sangat muda harus membaca buku seperti itu tanpa bimbingan orang dewasa sama sekali. Apa yang terjadi pada anak itu? Hingga dewasa ia penasaran akan apa yang ia baca, hmm…. Semoga ia tidak pernah berbuat nekat mencoba mempraktikan isi buku tersebut.

Sedang dampak baik sebuah tulisan juga sangat banyak, aku tak perlu menyebutkannya satu-persatu, sepertinya semua orang punya pengalaman sendiri-sendiri, bagaimana sebuah tulisan bisa mengubah mereka dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dai malas menjadi rajin, dari sedih menjadi tenang atau mungkin senang, dari tidak yakin menjadi yakin. Banyak sekali bukan?

Aku ingin bicara tentang “Indahya persaudaraan dalam tulisan” Maksudku begini, sebuah tulisan yang engkau baca hari ini, mungkin membuatmu lebih bersemangat dari sebelumnya, tapi taukah kamu siapa yang mebuat tulisan tersebut? Hmmm… Bahkan terkadang itu hanya share dari seorang teman, bahkan terkadang kitapun hanya mengenal teman tersebut dari dunia maya.

Mereka yang menulis mungkin tidak menyadari, sampai kemana tulisan yang ia buat? sampai kapan tulisan itu dibaca? siapa saja yang mengomentari? Apa dampaknya terhadap seseorang?

Tapi begini, banyangkan jika suatu hari di padang mahsyar ada seseorang yang ditanya begini

“Apa yang mebuatmu begini”

“Yang membuatku begini adalah sebuah tulisan yang aku baca, tulisan itu membuat aku begini, dan begini, kemudian akhirnya begini”

Sekarang bayangkan jika tulisan itu berdampak buruk pada seseorang, hmm…. Siapa si penulis? Kapan ditulis? Atas dasar apa ditulis? Kemudian siapa penyebar tulisan? Terus diruntut hingga akhirnya sampai pada pembaca. Hmm… Azab apa yang mereka peroleh??

Dan bayangkan pula jika tulisan itu berdampak baik pada seseorang, pertanyaan nya akan sama-sama diruntut, dari penulis pertama, penyebar kedua, dan seterusnya hingga sampai pada pembaca. Nikmat apa yang mereka peroleh?

Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (Az-Zalzalah :7-8)

Rajin-rajinlah membaca tulisan yang akan berdampak baik, dengan men-sharenya pada teman-temanpun akan berdampak baik, dan terus diruntut tetap akan berdampak baik. Insya Allah.

Walaupun kita tidak saling mengenal, tidak pernah berbincang lama, tidak pernah bertatap muka, bahkan mungkin tidak pernah tahu nama, tapi yakinlah sesuatu yang diawali dengan yang baik, akan berbuah baik pula. Pada suatu hari nanti kita akan dipertemukan dengan penuh cinta, dipertemukan karena perbuatan-perbuatan kita, karena bacaan kita, karena tulisan kita, seolah kita telah mengenal lama, selayaknya saudara. Indahkan sebuah persaudaraan karena tulisan. \^_^/

Rabu, 06 April 2011

Ada Sesuatu...


Ada sesuatu yang aneh, sesuatu yang tiba-tiba muncul begitu saja, pertanyaan-pertanyaan, kenapa tiba-tiba? Gelisah… tak setenang biasanya, ada apa ini? Ada firasat tidak baik? Hmmm…. aku ingin berbaik sangka, berkhusnuzon sajalah. Ah… benar, ada yang aneh? Kenapa? Aku merasakannya, duhai apapun yang kau tutupi, taukah kamu aku terlalu perasa.

Ku ingat-ingat, kubuka-buka memory lama, apa aku berbuat salah? Hmmm… sesuatu terjadi padamu, mungkin, tapi sampai sekarang aku tak mengerti. Ah… buntu.

Mencoba mengurangi hal-hal yang melalaikanku, mencoba memperbaiki diri lebih-lebih lagi, mencoba mendekatkan diri lagi. Aku lebih tenang, ya… lebih bisa menerima apapun. 

Tapi jujur aku takut, bahkan aku takut dengan ketakutanku sendiri. Takut dengan pikiran-pikiranku sendiri.

Dengan menulis ini mungkin orang lain berkata “Diriku terlalu terbuka” Tapi biarlah, toh orang tak mengerti apa yang menggelisahkanku.

Kembali, mengurai pintalan-pintalan lama, mengusik cerita-cerita yang ada, ada kesalahan. Dan ah… tersentak begitu saja, aku sempat menduakanNya, astaghfirullah…. Bukankah Ia Maha Pencemburu, ampuni duhai Pemilik Masa, takkan bisa waktu kuputar ulang, takkan bisa mengembalikan seperti sediakala.

Dan sekarang, hanya merayuMu lebih dalam lagi, memberikan proposal yang lebih bonafit lagi, memperdalam landasan teoriku lagi, mencoba meyakinkan lagi bahwa yang aku pinta InsyaAllah membuatku lebih bermanfaat.

Maafkan, wahai Maha Pemberi Maaf, takkan sanggup mengulang yang pernah terjadi, takkan sanggup. Tidak ingin kehilangan lagi Engkau lagi, pernah merasakan sakitnya, pernah merasakan gelisahnya, pernah merasakan tawa tapi hambar, tersenyum tapi hanya seberkas. Tidak…. Sekalipun tidak ingin mengulangnya lagi.

Sekarang… Sekali lagi, aku tak ingin kehilangan Engkau demi apapun, apapun itu. Janji, dan ingatkan duhai maha Pemilik diri, jika diri ini lupa. Sadarkan jika diri ini lalai akan tugas terpenting yang Engkau embankan.